Thursday, June 28, 2012

Analisis Konsep Kepemimpinan Dewasa Ini

Konsep Arah Kepemimpinan
            Konsep manajemen barat memandang birokrasi manajemen dari aspek vertikal dan horizontal. Jadi selalu berbicara atasan dan bawahan (vertikal) serta posisi dalam level sama, kesamping kiri dan kanan (horizontal). Kearifan kepemimpinanpun sejalan dengan konsep tersebut, yaitu diseputar bagaimana seseorang memberikan pengaruh kepada orang lain dalam kerangka birokrasi atasan bawahan serta samping kiri dan kanan tersebut (Hendrawan, 2008). Di Timur, khususnya di Indonesia, terdapat suatu konsep kepemimpinan yang berbeda dimensi, bukan atas bawah, tetapi depan belakang. Sebuah konsep kepemimpinan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara adalah tokoh dan pelopor pendidikan di Indonesia, yang mendirikan Perguruan Taman Siswa di tahun 1922. Di dalam mengelola perguruan tersebut, Ki Hajar memiliki moto dalam bahasa jawa yang berbunyi: Ing ngarso sung tulodho, ing madaya mangun karsa, tut wuri handayani. Moto tersebut terjemahan langsungnya adalah “di depan memberikan teladan, di tengah menggerakkan, di belakang memberikan dorongan”. Moto tersebut pada mulanya ditujukan untuk menjadi pedoman untuk membangun kultur positif antara guru dan murid, namun dalam perkembangannya konsep tersebut digunakan menjadi konsep kepemimpinan, yang khas dan asli Indonesia.
            Apa yang membedakan dengan konsep kepemimpinan barat? Kepemimpinan model barat yang vertikal horisontal, atas bawah dan samping mengandung makna disequality, ketidaksamaan, dan power yang tidak seimbang (asymetric power). Ada posisi diatas yang memerintah dan posisi di bawah yang diperintah. Ada yang more powerful dan ada yang less powerful. Sedangkan konsep kepemimpinan khas Indosesia ala Ki Hajar tidak membedakan orang dari tingkatannya, tetapi dari peranannya. Peran itupun tidak selalu sama, bisa peran saat di depan, peran pada saat di tengah, dan peran pada saat di belakang. Dengan kata lain, pada suatu saat seorang pemimpin harus berperan di depan, pada saat lain di tengah, dan saat yang lain lagi bisa berperan di belakang (Hendrawan, 2008)

Fenomena Kepemimpinan Dewasa Ini
            Ada hal menarik yang perlu dikaji, pada abad sebelum 15 Masehi budaya di Timur dan kehidupan peradabannya begitu tinggi, ini pun mencerminkan sistem kepemimpinan yang efektif di setiap sendinya. Namun, setelah 15 Masehi (Renaisains ), justru Baratlah yang mulai mendominasi dunia. Banyak penemuan dan perubahan peradaban di wilayah Barat. Mengapa sekarang Barat lebih memimpin dibanding Timur ? karena Barat telah menggunakan konsep-konsep inventori otak kanan (berpikir pararel, Intuisi, Kreativitas, Metapora, Humor, Imaginasi, dll) sebuah konsep otak kanan yang telah dimiliki orang-orang Timur terdahulu (Ippo Santosa, 2007). Budaya Barat telah memandang kepemimpinan dengan cara kanan terlihat dari standar-standar kepemimpinan yang dirumuskan oleh Barat. Bennis Warren dalam bukunya on Becoming a Leader, menyebutkan standar dasar sifat kepemimpinan Barat dewasa ini ; visioner (guiding vision), berkemauan kuat (passion), integritas (integrity), amanah (trust), rasa ingin tahu (curiosity), berani (courage), inisiatif, menguasai perubahan dan mampu mendengarkan (Bennis, 1994).  Standar-standar inilah yang membentuk generasi-generasi barat yang memimpin dengan kapasitas mental yang baik. Kapasitas mental untuk menentukan bagaimana prinsip-prinsip kemanusiaan universal diterapkan terhadap nilai-nilai, tujuan dan tindakan kita (Lennick, 2005). Dapat dilihat dari corporate-corporate Barat yang mengungguli Timur. Ekonomi Barat masih mendominasi negara-negara berkembang di Timur. Disisi lain, banyak corporate Timur yang justru mengiblat ke Barat.
            Namun demikian, kepemimpinan di Timur masih tetap unggul secara moral. Karena budaya Timur masih menjaga nilai nilai kemanusiaan, serta nilai nilai luhur lainnya. Para pemimpin rakyat yang muncul mampu mempelopori pergerakan rakyatnya serta mengangkat derajat rakyatnya. Seperti yang dicontohkan Mahatma Gandhi yang berhasil mengaplikasikan Ing ngarso sung tulodho, ing madaya mangun karsa, tut wuri handayani. Sebuah keteladanan yang baik mampu mengarahkan kekuatan rakyatnya. Ahmad Dinedjad dianggap relevan menjadi Icon pemimpin Timur, yang Inspiratif karena mampu menunjukkan sikap-sikap luhur budaya Timur seperti ; sikap sederhana, berani mempertahankan hak (pengembangan tenaga nuklir untuk perbaikan dan kedamaian), sikap politik yang sehat dan manusiawi, dekat dengan masyarakatnya, serta mampu meningkatkan kesejahteraan selama periode pemerintahannya. Pemimpin corporate di Timur pun sangat menarik karena kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang bawahan  yang dipandang sebelah mata seperti Sinichi Honda (Owner Honda), Febrian Agung (owner PT.DFI) dan lainnya.

Titik Temu
Kepemimpinan dalam persfektif Timur dan Barat memiliki kesamaan dalam hal urgensi kepemimpinan. Kepemimpinan adalah hal yang mendasari terciptanya tatanan kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, politik, militer, kebudayaan dan bidang bidang kehidupan lainnya, agar tatanan yang diharapkan dan yang menjadi tujuan bersama (kesejahteraan) dapat terwujud, serta memberikan kebermanfaatan bagi semuanya. Kepemimpinan yang diharapkan Timur dan Barat adalah kepemimpinan yang Integritas.







Sumber  Pustaka :

Syafii, Antonio.2007.Muhammad SAW the Super Leader and Super Manager. Jakarta: Tazkya Publishing
Bennis, Warren.1994. On Becoming a Leader. New York : Addison Wesley
www.altruisme.luphie.com diakses tanggal 25 Maret 2012

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.